Salah satu anggota tubuh kita yang paling berkuasa adalah mulut kita, perkataan kita. Banyak orang salah sangka, mengira bahwa perkataan itu murah dan tidak ada akibatnya. Kita harus hati-hati menggunakan mulut kita, karena mulut berkuasa dan semua kata yang kita ucapkan memiliki kuasa. Kalau tidak di gunakan dengan benar maka akan menjadi kutuk bagi orang lain.
Kita harus hati-hati dengan perkataan yang keluar dari mulut kita, karena sebenarnya ketika kita membuka mulut kita maka sesuatu telah terjadi. Bahkan sesuatu yang dahsyat bisa terjadi kalau kita menggunakan mulut kita dengan benar, terlebih lagi bila mulut kita membawa pesan dari Tuhan.
Tuhan sering memakai manusia untuk menyampaikan isi hatinya, seperti pada kitab Yehezkiel 37:1-14. Tulang-tulang dalam kisah ini adalah kiasan perumpamaan sebuah bangsa, yakni bangsa Israel yang saat itu sedang dibuang ke Babilonia – pada tahun 547 SM – dalam keadaan terjajah, dan tidak ada harapan.
Kepada tulang-tulang tersebut apabila disampaikan Firman Tuhan, maka akan terjadi perubahan, mereka tidak lagi lesu tetapi terjadi kebangkitan. Tumbuh urat, kekuatan, dari mati menjadi hidup, kekeringan menjadi kekuatan, dari tidak ada harap menjadi tentara yang sangat besar, dan yang lebih hebat lagi Roh Tuhan masuk kedalam mereka. Perkataan yang keluar dari Yehezkiel mengubah nasib, membangkitkan, memotivasi, memberi arti.
Mulut orang yang membawa Firman Tuhan akan sangat berkuasa seperti contoh seorang perwira pada Lukas 7:7. Perwira ini mengerti arti nilai sebuah ucapan, dia tidak minta obat, tidak minta jimat, tapi hanya meminta Yesus untuk berkata saja maka hambanya akan sembuh. Kuasa ini juga menyertai orang percaya, ketika kita membiasakan diri mengucapkan Firman Allah untuk orang lain, untuk diri kita sendiri maka efeknya luar biasa. Pernahkah anda berkata kepada diri anda sendiri: bangkitlah hai jiwaku ? Bangunlah hai jiwaku (Mazmur 57:9) Dalam keadaan tertekan, ketika musuh-musuhnya memasang jerat, Daud berkata kepada dirinya – hatiku siap. Bangunlah hai jiwaku. Ini namanya self talk, berbicara kepada diri sendiri, tapi berkata-katalah yang positif. Jangan sabotase diri kita sendiri, jangan berkata bahwa kita orang gagal, maka akan gagallah diri kita. Kita harus berkata yang positif untuk diri kita, bernubuat yang positif, sehingga dapat mencapai apa yang kita impikan.
Pada kitab Yoel 3:10 –Firman Tuhan berkata orang tak berdaya, yang lemah hendaknya berkata : Aku ini pahlawan – let the weak say I am strong. Dengan berkata : “dengan Allah lakukan yang besar” kita menguatkan diri kita, dan membangkitkan semangat dan motivasi kita. Jangan melemahkan diri kita sendiri dengan mengatakan kata-kata yang negative. Bernubuatlah yang positif untuk diri kita. Bangkit dan kuatlah dalam Tuhan.
Ucapkanlah janji-janjiNya maka Ia akan mengingatNya dan menyelesaikan apa yang Dia pernah janjikan. Dalam Mazmur 57: 3 – dikatakan bahwa Allah menyelesaikan JanjiNya kepada kita karena itu adalah salah satu sifatNya.
Firman Tuhan ketika diucapkan tidak akan kembali dengan sia sia, tidak pergi dan kosong, tapi ketika Firman Tuhan diperdengarkan maka ada sesuatu yang terjadi, ada pergerakan ada kesibukan seperti pada Yesaya 55:10-13, Firman Tuhan itu membuat subur, menumbuhkan, memberi makan.
Nubuat adalah mengingatkan orang atau diri sendiri akan Janji Allah yang sudah ada dalam hati Allah, karena sebenarnya kita sudah dinubuatkan oleh Tuhan, kita cuma sekedar mengulangi janji yang sudah ada dalam hati Tuhan. Mari kita jadikan Komunitas ini bukan hanya membawa kabar baik, tapi komunitas yang bernubuat, bangkit – bernubuatlah bagi anak-anakmu, suamimu, istrimu, gerejamu, kotamu, bangsamu. Bernubuatlah yang positif setiap hari, bukan hanya sekali-sekali. Kata-kata membawa arus – ibarat menghantarkan listrik.
Mulut kita sangat berkuasa, itu sebabnya Allah berkata jangan mengeluh, jangan bersungut-sungut – I Korintus 10:10 – mengucapkan kelemahan berulang-ulang, memberi bobot terlalu besar pada sebuah persoalan, terlalu focus kepada kekurangan. Fokus kepada kelemahan orang lain, membicarakan, menambahkan memberi bobot berlebih, maka celaka akan turun pada orang itu dan pada kita yang membuka mulut karena kita juga mendengarkannya sendiri. Ketika kita membuka mulut maka dapat menajiskan kita, memberikan pengaruh yang besar terhadap diti kita seperti pada Matius 15:18 yang masuk ke dalam mulut kita tidak menajiskan, tetapi yang keluar dari mulut kita bisa menajiskan seluruh tubuh kita.
Iblis juga menggunakan kebohongan, kata kata, rayuan untuk mempengaruhi hawa. Jangan berikan telinga kita kepada sembarangan orang, hati hati dengan telinga kita, tidak sembarangan di umbar. Ketika Hawa memberikan telinganya untuk mendengar sang ular maka diapun tergoda untuk memakan buah tersebut.
Kata-kata sangat berkuasa, kata kata bisa melukai bisa menyakiti, kelihatannya hanya seperti angin tapi bisa membunuh seperti pada Amsal 11:9 Jangan meremehkan kata kata, selama belum diucapkan kata kata itu milik kita, tetapi begitu keluar dari mulut kita, ia bukan lagi milik kita, orang lain bisa mencurinya, bisa menambahkannya, bisa mengembalikan lagi kepada kita. Yakobus 3:5 lidah yang kecil dapat dapat membakar hutan, menyakiti, menghakimi, tidak berbuat adil terhadap orang lain. Yakobus 3:9-11
Perhatikan mulut kita:
- Sadarilah ada kuasa dalam mulut kita – jangan sembarangan berbicara yang tidak perlu. Perkataan sia sia – perkataan kotor itulah yang mendukakan Roh Kudus (Efesus 4:29-30). Bangun komitmen untuk memakai kata kata yang baik untuk membangun orang orang disekitar kita. Pada orang-orang yang letih lesu di sekitar kita, kita pakai mulut kita untuk membangkitkan dan menguatkan mereka. Jangan menghakimi, menyalahkan orang lain, atau diri kita sendiri. Pakai mulut kita sebagai alat kemuliaan Tuhan, memberi motivasi, memberitakan Injil. Malcolm Gladwell, penulis Tipping point (titik dimana sebuah mode berubah menjadi sangat diminati), mengamati bahwa titik bangkit yang sesuatu menjadi tersebar seperti wabah perlu peranan orang orang yang mau menggunakan mulutnya dan membawa berita tersebut. Ada tiga syarat menurut teori ini – ada pembawa berita (law of the Few) atau connector kemudian ada stickiness factor – beritanya tepat – melekat dan ketiga ada context – artinya waktunya tepat. Disingkat, ada berita yang baik, ada waktu yang baik ada pembawa berita yang baik dan semangat maka akan mewabah sesuatu berita. Contohnya, April 18, 1775 seorang pengurus kuda mendengar bahwa Tentara Inggris akan menyerang Boston Amerika, segera – dia lari ke rumah Paul Revere. Paul Revere segera membawa berita – lewat mulutnya, seluruh Boston dan kota kota sekitarnya bangkit, Amerika melawan Inggris habis-habisan, gerilya Amerika akhirnya dapat mengalahkan Inggris. Beritanya Inggris mau menyerang, melekat karena penting dan waktunya tepat – Inggris sedang akan menyerang Amerika.
- Perhatikan perbendaharaan dalam hati kita. Garbage in garbage out – sampah yang masuk sampah yang keluar. Seperti Firman Tuhan pada Lukas 6:45, semua dimulai dari dalam, jadi pikirkan yang baik supaya kata-kata baik yang keluar dari mulut kita. Untuk menjaga mulut, kita harus membereskan dari dalam sumbernya, yaitu hati kita dengan cara banyak membaca Firman Tuhan. Sehingga akan terjadi perubahan dahsyat dari perbendaharan kita. Orang berhasil selalu kuat perbendaharaannya, supaya self talk, bicara dengan orang lain itu juga penuh semangat positif.
- Ucapkanlah Firman Tuhan dengan jelas karena akan menjadi Janji dan nubuat. Perkatakanlah Firman Tuhan setiap hari biasakan mengutarakan kembali Firman Tuhan, dengan mengeluarkan suara, maka kita akan melihat mukjizat terjadi karena Firman Allah berkuasa.
- Jadilah komunitas yang dipulihkan mulutnya memperhatikan apa yang kita ucapkan. Saling membangun – ibarat orkestra, semua kalau secara harmonis mengeluarkan kata kata yang baik maka kita akan mencapai tipping point, Karawaci menjadi berubah, jumlah kita tidak lagi lima ratus orang tapi mencapai seribu dalam waktu cepat karena dipulihkan mulutnya.
Popularity: 13% [?]





![[Google]]( http://mejatulis.com/blog/wp-content/plugins/easy-adsenser/google-light.gif)






