September 2010
S M T W T F S
« Aug    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Focus

Jangan ada dusta diantara kita

Amsal 6:16-19: Enam perkara ini yang dibenci TUHAN, bahkan, tujuh perkara yang menjadi kekejian bagi hati-Nya: mata sombong, lidah dusta, tangan yang menumpahkan darah orang yang tidak bersalah, hati yang membuat rencana-rencana yang jahat, kaki yang segera lari menuju kejahatan, seorang saksi dusta yang menyembur-nyemburkan kebohongan dan yang menimbulkan pertengkaran saudara.

 

Sangat jarang gereja memberikan teguran bagi para pendusta. Bentuk perkara kejahatan seperti berzinah, penyembahan berhala, mencuri, okultisme, sering mendapatkan perhatian dan diberikan bobot yang sangat berat. Padahal sesungguhnya dusta mempunyai bobot penghukuman yang sama, paling sering dilakukan dan semua orang pernah melakukannya. Dalam Mazmur 116:11 Daud mengakui bahwa semua manusia pernah berbohong “Aku ini berkata dalam kebingunganku: semua manusia pembohong.” Jadi pembohong yang paling besar sebenarnya adalah seseorang yang mengatakan bahwa dia tidak pernah berbohong.

 

Allah tidak menyediakan tempat bagi pendusta, sama seperti pezinah, penyembah berhala dan tukang sihir. Pada akhir zaman akan akan ada dua tempat yang terpisah yang disediakan oleh Tuhan, yaitu bumi baru yang diperuntukkan bagi mereka yang mendapatkan perkenan Allah dan lautan api yang menyala-nyala bagi mereka yang melakukan jenis-jenis perbuatan yang dibenci Allah, termasuk diantaranya adalah berdusta (Wahyu 21:8). Harusnya kita semua menyadari bahwa sangsinya amat sangat berat, oleh karenanya jangan anggap remeh perbuatan berbohong. Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu. Ini adalah perintah ke sepuluh yang ada dalam sepuluh perintah Allah (Kel 20:16).

 

Dalam hal mencari penghasilan, Amsal 21:6 mengingatkan bahwa memperoleh harta benda dengan lidah dusta adalah kesia-siaan karena akan menjadi jerat yang mengikat. Pada saat kita melakukan kebohongan, maka kita akan perlu kebohongan-kebohongan berikutnya untuk menutup kebohongan yang sudah kita lakukan sebelumnya. Karena semakin lama semakin banyak kebohongan, maka suatu saat hal itu akan terungkap dan menjadi hancur atau sia-sialah semua hal yang saudara lakukan selama itu.

 

Pelajaran mengenai akibat dusta juga menjadi bagian dalam kitab Kisah Para Rasul (Kisah 5:3-5). Orang percaya saat itu hidup bersama-sama dengan saling menopang satu dengan lainnya. Bahkan mereka memberikan seluruh harta mereka untuk dipakai bersama-sama. Sepasang suami istri, Ananias dan Safira juga menjadi bagian di dalam kegerakkan ini. Ananias menjual sebidang tanah miliknya untuk diberikan kepada persekutuan, tetapi ia berdusta dengan menyimpan sebagian dari hasil penjualan itu. Petrus berkata: “Ananias, mengapa hatimu dikuasai Iblis, sehingga engkau mendustai Roh Kudus dan menahan sebagian dari hasil penjualan tanah itu?” Seolah-olah ia berdusta kepada seorang Petrus, namun Petrus dengan keras menyatakan bahwa sesungguhnya ia sedang mendustai Allah. Maka rebahlah dan putuslah nyawa Ananias saat itu juga. Beberapa saat kemudian datanglah ke hadapan Petrus, Safira yang tidak mengetahui peristiwa itu. Pada saat itu Safira masih mendapat kesempatan karena Petrus masih memberikan pertanyaan kepadanya yang bisa dijawabnya dengan jujur. Namun karena hatinya tidak cukup peka maka Safira pun melewatkan kesempatan ini dan melakukan dusta seperti kesepakatan dengan suaminya. Saat itu juga putuslah nyawanya. Sangat disayangkan bahwa banyak orang menganggap dusta adalah perbuatan yang sepele yang tidak diketahui orang. Mulai saat ini berhati-hatilah, karena dengan dusta yang engkau lakukan sesungguhnya engkau bukan mendustai manusia, tetapi engkau mendustai Allah. Jangan sampai kita kalah karena kita berdusta. Selagi masih ada kesempatan, jangan keraskan hatimu. Bertobatlah.

 

Paulus mengajarkan kepada Timotius bahwa di waktu-waktu kemudian, ada orang yang akan murtad lalu mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan oleh tipu daya pendusta-pendusta yang hati nuraninya memakai cap mereka (1 Tim 4:1-2). Kerusakan besar yang diakibatkan oleh kebohongan atau dusta adalah menjadi tidak berfungsinya hati nurani. Saudara perhatikan anak-anak yang masih kecil, saat mereka berbohong biasanya kita lebih mudah mengetahuinya karena raut muka atau gerakan tubuh mereka terlihat berbeda dengan ucapan mereka. Hal ini terjadi karena hati nurani mereka bekerja kuat untuk menentang kebohongan yang timbul. Tetapi bagi para pembohong professional, kebohongan yang dilakukan sangat tidak kentara dan benar-benar seperti keadaan yang sebenarnya. Keadaan ini bertanda bahwa hati nuraninya sudah tumpul atau bahkan mati.

 

Berhentilah berbohong. Salah satu cara dilakukan dalam usaha memerangi kebohongan adalah dengan memakai gelang karet. Kalau sadar bahwa ia baru saja berbohong, jepretkan karetnya agar menimbulkan tanda di kulit atau rasa sakit untuk mengingatkan. CS Lewis pengarang buku yang terkenal Chronicle of Narnia, menuliskan dalam buku The Great Divorce bahwa alasan orang tinggal di dalam neraka, terpisah jauh dari surga, adalah karena mereka tidak mau melepaskan sesuatu yang mereka cintai untuk Tuhan. Semuanya adalah untuk kepentingan diri sendiri, demikian juga kebohongan dilakukan sebenarnya untuk kepentingan diri sendiri. Sebaliknya, mereka yang tinggal dalam surga adalah mereka yang rela melepaskan segala kenikmatan, kesukaan, cita-cita yang dapat mereka miliki untuk kepentingan Tuhan. Profesi sama sekali tidak menentukan baik itu dokter yang menyembuhkan banyak orang, pendeta yang mendoakan, pengusaha yang melakukan aksi sosial, semuanya tidak menentukan. Motivasi yang terdalam menjadi yang terpenting di mata Tuhan.

 

Orang Kristen harus lebih berhati-hati karena kita sering memakai lidah kita untuk memuji Tuhan. Janganlah lidah yang sama juga dipakai juga untuk kebohongan. Kalau orang lain boleh berbohong, saudara tidak boleh. Kalau orang dunia boleh berzinah, saudara tidak boleh. Kalau yang belum mengenal Tuhan boleh menyakiti orang lain dengan kata-katanya, saudara tidak boleh. Kita adalah orang-orang yang mempunyai janji. Kita adalah umat terpisah yang sudah dibayar mahal oleh darah Kristus. Tuhan menuntut persyaratan bagi orang-orang yang mau tinggal bersama-Nya. Tidak sembarang orang boleh menempati kemah Tuhan. Daud mengungkapkannya “TUHAN, siapa yang boleh menumpang dalam kemah-Mu? Siapa yang boleh diam di gunung-Mu yang kudus? Yaitu dia yang berlaku tidak bercela, yang melakukan apa yang adil dan yang mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya, yang tidak menyebarkan fitnah dengan lidahnya, …. (Mazmur 15:1-5). Banyak gereja yang memberitakan kasih karunia yang terlalu murah (cheap grace). Pengertian yang salah akan menggiring jemaat Tuhan kepada tindakan yang salah. Seolah-olah orang percaya bisa melakukan perbuatan apapun seenaknya karena ada kasih karunia Tuhan yang menebus dan mengampuni. Firman Tuhan dalam Wahyu 14:1-5 jelas mengatakan bahwa ada orang-orang istimewa yang akan duduk secara khusus di sekitar Allah. Mereka adalah orang-orang yang tidak mencemarkan dirinya. Dalam mulut mereka tidak terdapat dusta dan mereka tidak bercela. Hatinya mau ikut kemana saja Anak Domba pergi.

 

 

KEPENUHAN ROH KUDUS MENGHASILKAN KEJUJURAN

Dan kalau Ia datang, Ia akan menginsyafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman (Yoh 16:8)

 

Saat ini kita sedang memperingati hari raya Pentakosta yaitu pencurahan Roh Kudus kepada para rasul di Yerusalem yang berdampak sangat luar biasa (Kis 1:8). Roh Kudus tetap bekerja bahkan sampai dengan saat ini. Ada dua macam pengurapan yang diberikan oleh Roh Kudus yaitu kuasa (dunamos) untuk melakukan perkara yang dahsyat seperti menyembuhkan, mengusir setan, membangkitkan orang mati; dan kuasa untuk bersaksi dengan memakai mulut kita menceritakan kebenaran.

 

Sesungguhnya karunia yang paling besar yang terjadi pada saat pencurahan Roh Kudus  adalah Roh Kudus menginsyafkan kita dari perbuatan dosa. Biarlah saat kita menerima pencurahan dan kepenuhan Roh Kudus membuat kita berani keluar dari persembunyian dan hidup di dalam terang. Biarlah kita mampu menerima apapun kondisi, persoalan yang terjadi meskipun keadaan begitu sulit. Jangan lari. Mintalah Roh Kudus untuk memberikan kekuatan. Kepenuhan Roh Kudus dialami bukan hanya dengan bahasa lidah dan kesembuhan, tetapi hati nurani saudara yang mungkin sudah tumpul atau bahkan mati akan dihidupkan kembali. Dia akan menyadarkan dan menginsyafkan kita dari perbuatan-perbuatan yang merupakan kejahatan dan kekejian dihadapan Allah. Roh Kudus menjadikan orang-orang berkarakter, bukan hanya mempunyai kuasa dan karunia. Karakter itu jauh lebih penting. Kalau karunia yang hebat menentukan seberapa tinggi saudara bisa mencapai keberhasilan, tetapi karakter berbicara seberapa lama saudara bisa bertahan dalam posisi tersebut. Yesus menegur orang-orang yang mendengarkan pengajaran-Nya tetapi dibalik itu mereka hanya mencari makan dan mau melihat mukjizat tanpa mau dibentuk karakternya.

 

Saat terjadi pencurahan Roh Kudus, organ pertama yang perlu diubahkan adalah lidah. Ini sebabnya mengapa perubahan pertama yang terjadi adalah munculnya bahasa lidah. Kedewasaan rohani seseorang diukur dari bagaimana dia memakai lidahnya. Saat mau dipakai oleh Tuhan, Yesaya mengakui bahwa aku ini najis bibir sehingga tidak layak melayani Tuhan. Tuhan kemudian memerintahkan Kerub untuk membakar mulut Yesaya dengan api surga untuk membersihkan kenajisannya sehingga Yesaya dapat berkata dengan sepenuh hati “Ini aku, utuslah aku.” Demikian kita semua yang pasti pernah berbohong, marilah kita meminta pengurapan dari Roh Kudus sehingga kita menyadari dan insyaf dari dosa dusta yang pernah kita lakukan, meminta kekuatan dan kuasa Roh Kudus yang memampukan kita menjalani hidup dengan kebenaran. Amin.

 

 

 



Popularity: 9% [?]

Leave a Reply

 

 

 

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>